Photobucket Photobucket SELAMAT DATANG DI WWW.EKARAHAYU.TK SEMOGA BERMANFAAT BAGI SEMUANYA BACA JUGA BLOG SAYA YANG LAIN KLIK DISINI

Apa Yang Anda Cari Ada Disini

Loading

Kamis, 02 Desember 2010

Peranan Regulasi Susu Formula ( PASI ) dalam Tumbuh Kembang Anak

PERANAN REGULASI SUSU FORMULA ( PASI ) DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
Oleh: Eka Rahayu Purwanto
Susu sebagai minuman utama pada bayi terdiri dari ASI, PASI atau susu formula (comercial formula) dan Non Formula. PASI (Pengganti Air Susu Ibu) adalah makanan bayi yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai berumur enam bulan.
ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, kandungan gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada anak. ASI juga mengandung zat untuk perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit) dan dapat menjalin hubungan cinta kasih antara bayi dengan ibu.
Tetapi akan menjadi masalah bila anak tidak dapat mengkonsumsi ASI dengan cukup karena berbagai kondisi dan keadaan. Untuk menggantikan ASI yang tidak dapat diberikan oleh ibu. PASI (Pengganti Air Susu Ibu) adalah merupakan alternatif terakhir bila memang ASI tidak keluar, kurang atau mungkin karena sebab lainnya. Penggunaan PASI (Pengganti ASI) tentu saja menjadi alternatif yang tidak dapat dihindarkan oleh orang tua. Karena tanpa ASI atau PASI anak tidak akan mudah untuk mendapatkan Pertumbuhan dan Perkembangan yang optimal.
Pemilihan susu formula (PASI) terbaik bagi anak harus dilakukan secara cermat dan teliti. Susu merupakan makanan bayi dan anak yang dikonsumsi setiap hari dalam jumlah banyak dan jangka panjang.
Banyaknya macam susu formula yang beredar membuat orang tua sangat dibingungkan dalam pemilihan dan pemberian susu formula. Dalam hal ini Yang perlu dipahami adalah kebutuhan zat gizi dan tingkat kecocokan susu formula pada masing-masing golongan usia anak adalah berbeda. Bila susu tersebut tidak cocok bisa menimbulkan gangguan tumbuh kembang yang terjadi terus menerus dalam jangka panjang.
Untuk itu perlu adanya suatu regulasi atau aturan tentang pemberian Susu Formula pada anak yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Susu merupakan makanan anak yang dikonsumsi setiap hari dalam jumlah banyak dan jangka panjang. Selewat usia bayi, susu formula bukan lagi merupakan pengganti ASI tetapi suplemen atau pelengkap makanan yang berfungsi membantu Tumbuh Kembang anak.

KANDUNGAN GIZI PADA SUSU FORMULA
Meski tampak sepele, memilih susu formula untuk anak cukup membingungkan. Selain banyak macamnya, kita kadang dihadapkan oleh berbagai informasi mengenai kandungan gizi di dalamnya. Dalam pemilihan susu formula, kandungan zat gizi yang ada pada susu formula perlu diketahui supaya bisa membuat pilihan yang bijak untuk membantu pertumbuhan buah hati.

Zat Gizi yang ada pada susu formula

1. AA (Asam Arakidonat) - DHA (Dokosaheksaenoat) dan LA (linoleic acid)
Fungsinya adalah untuk tumbuh kembang dan perkembangan saraf di otak. Zat gizi ini juga membantu pembentukan jaringan lemak otak (mylenisasi) dan menjaga interkoneksi sel-sel syaraf otak. Kekurangan kedua zat ini akan menyebabkan perkembangan fungsi mental dan intelektual anak terhambat. Tak hanya kesehatan pencernaan, perkembangan kecerdasan anak juga tak kalah penting. Keduanya memegang fungsi vital bagi proses tumbuh kembang bayi yang optimal. Tahun pertama kehidupan adalah masa yang paling menentukan bagi kecerdasan seseorang. Pada periode ini otak dan sistem saraf tumbuh paling cepat dan ukuran otak telah berkembang menjadi tiga kali lipat pada saat bayi genap berusia satu tahun. Khusus untuk menunjang perkembangan sistem saraf pada otak, bayi dan anak-anak membutuhkan zat gizi DHA dan LA.
 DHA (docosahexaenoic acid) dan LA (linoleic acid) merupakan prekusor dari AA (arahidonic acid). Keduanya dibutuhkan sebagai jenis lemak asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang yang berfungsi sebagai komponen utama pembentukan membrane sel otak. Pertambahan sel neuron pada otak terbentuk sejak manusia masih berada dalam kandungan hingga usia tiga tahun. Sel neuron dalam otak berfungsi untuk menyimpan memori. "Kalau bayi kekurangan zat gizi DHA dan AA, maka sel neuron yang terbentuk juga sedikit sehingga kemampuan menyimpan data juga terbatas," Komponen utama dari membran sel neuron adalah lemak. Itulah sebabnya bayi perlu diberi asupan lemak dalam jumlah memadai agar perkembangan otaknya maksimal.
 Semua kandungan gizi itu sudah ada di dalam ASI. Namun tidak semua ibu dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan anaknya dengan ASI. Agar kebutuhan nutrisi anak terpenuhi, para produsen susu formula kemudian membuat produk yang komposisinya mendekati ASI, dan menambahkan elemen nutrisi penting tersebut. Hingga saat ini, komposisi zat 'buatan' tersebut terbukti memberikan manfaat plus bagi kesehatan bayi dan anak. Namun yang perlu dipahami adalah, bahwa kandungan tambahan ini hanya akan efektif berfungsi di dalam tubuh si kecil apabila bersinergi dengan zat gizi lain. Misalnya kandungan AA-DHA akan berfungsi baik bila bersinergi dengan zat besi dalam pembentukan otak. Jadi yang terpenting dari susu tetaplah zat gizi utamanya, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Jika kebutuhan dasar gizi sudah tercukupi, maka zat ekstra ini baru akan terasa manfaatnya.

2. Fruktooligosakarida (FOS) dan Galakto - oligosakarida (GOS).
FOS dan GOS disebut juga prebiotik yang secara selektif merangsang pertumbuhan bakteri baik di dalam saluran cerna. FOS dan GOS adalah karbohidrat kompleks atau molekul gula rantai pendek tidak dapat dicerna seluruhnya oleh sistem pencernaan manusia. Bagian yang tidak dicerna ini melewati intestine dan menjalani proses fermentasi dalam usus besar. "Bagian inilah yang berfungsi sebagai makanan dan sumber energi bagi bifidobacteria dan lactobalcillus sebagai bakteri baik untuk berkembang biak, yang bermanfaat bagi kesehatan saluran cerna. FOS dan GOS juga berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri patogen atau bakteri jahat yang merugikan.
Oleh karena itu, prebiotik dibutuhkan saluran cerna sejak awal kehidupan, yaitu ketika bayi baru lahir. Umumnya saat bayi lahir, keadaan usus steril. Namun, setelah beberapa saat akan terlihat perubahan. Kondisi usus bayi menyerupai usus orang dewasa yang dipenuhi berbagai macam bakteri patogen yang merugikan kesehatan.

3. Karoten
Berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh, memelihara sel-sel sehat dan melindungi si kecil dari bahaya radikal bebas.

4. Selenium
Jenis mineral ini dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sekaligus berfungsi sebagai antioksida

5. Sphingomyelin
Merupakan komponen utama dalam proses pembentukan selubung myelin otak. Selubung myelin berperan penting untuk mempercepat rangsangan antara sel syaraf.

6. Nukleotida
Meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan hifidobakteria diusus,menurunkan kejadian diare dan membantu absorpsi zat besi.

7. Laktoferin
Berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan bakteri berbahaya dengan mengikat zat besi yang dibutuhkan bakteri tersebut sebagai sumber makanan

8. Laktulosa
Membantu meningkatkan pertumbuhan bifidobakteria atau bakteri menguntungkan dalam tubuh. Membantu kesehatan sistem pencernaan dan memperbaiki penyerapan zat gizi.

9. Asam Linoleat (Omega 6) dan Asam Linolenat (Omega 3)
Membuat lentur pembuluh darah, menghindari terjadinya vlek atau sumbatan pada pembuluh darah.

10. Zat besi
Merupakan salah satu mineral yang berfungsi untuk pembentukkan sel darah merah. Serta berperan dalam peningkatan daya konsentrasi.

11. Probiotik
Membuat kondisi usus lebih sehat, hingga proses pencernaan berjalan baik.

12. Prebiotik
Serat makanan golongan karbohidrat yang dapat merangsang pertumbuhan bakteri probiotik, terutama bifidobakteria dan laktobasilus yang bermanfaat. Prebeotik juga bisa mencegah sembelit pada si kecil.


Aspek Kesehatan ( Ketidak Cocokan Pada Susu Formula ) Pada Tumbuh Kembang anak

Pengaruh ketidak cocokan terhadap susu formula bisa disebabkan karena reaksi simpang makanan bisa karena reaksi alergi atau reaksi nonalergi. Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi. Reaksi hipersensitif terhadap protein susu sapi dengan keterlibatan mekanisme sistem imun. Alergi terhadap susu formula yang mengandung protein susu sapi merupakan suatu keadaan dimana seseorang memiliki sistem reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Sistem kekebalan tubuh bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan muncul.
Reaksi non alergi atau reaksi simpang makanan yang tidak melibatkan mekanisme sistem imun dikenal sebagai intoleransi. Intoleransi ini bisa terjadi ketidakcocokan terhadap laktosa, gluten atau jenis lemak tertentu. Reaksi simpang makanan tersebut terjadi karena ketidakcocokan beberapa kandungan didalam susu formula. Bisa terjadi karena ketidakcocokan terhadap kandungan protein susu sapi (kasein), laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan sebagainya. Alergi susu sapi adalah alergi terhadap kandungan protein tertentu yang ada di dalamnya. Banyak penelitian mengenai alergenitas protein susu sapi. Terdapat lebih dari 40 jenis protein yang berbeda dalam susu sapi yang berpotensi untuk menyebabkan sensitivitas. Kandungan pada susu sapi yang paling sering menimbulkan alergi adalah lactoglobulin, selanjutnya casein, lactalbumin bovine serum albumin (BSA).
Analisa Immunoelectrophoretic menunjukkan bahwa casein berkurang alergenisitasnya setelah pemanasan sekitar 120 C selama 15 menit, sedangkan lactoglobulin, lactalbumin berkurang terhadap pemanasan lebih dari 100C. BSA dan gammaglobulin kehilangan antigenisitasnya pada suhu antara 70C - 80C


Gejala Reaksi Alergi Susu Sapi atau Susu Formula

Gangguan akibat ketidakcocokan susu formula bisa timbul karena reaksi cepat atau timbulnya gejala kurang dari 8 jam. Pada reaksi lambat atau gejala baru timbul setelah lebih dari 8 jam, atau kadang setelah minum susu 5 atau 7 hari baru timbul keluhan. Tanda dan gejala ketidak cocokan susu formula atau alergi susu hampir sama dengan alergi makanan. Gangguan tersebut dapat mengganggu semua organ tubuh terutama pencernaan, kulit, saluran napas dan organ lainnya.

1. Gangguan Saluran Cerna
Sering muntah/gumoh, kembung, cegukan, sering buang angin, sering ngeden /mulet sering rewel, gelisah atau kolik terutama malam hari. Sering buang air besar (> 3 kali perhari), Feses berwarna hijau, hitam, berbau, sangat keras, cair atau berdarah. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau turun berok karena sering ngeden sehingga tekanan didalam perut meningkat. Bila gangguan saluran cerna terjadi jangka panjang akan mengakibatkan : daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA (batuk, pilek, panas, tonsilitis (amandel) berulang kadang setiap bulan atau lebih.

2. Gangguan Kulit
Sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama dipipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak didaerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar dikepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau. Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru). Gusi tampak bengkak seperti tumbuh gigi.

3. Gangguan Saluran Nafas
Nafas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari, siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala peyang) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak.
Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi. Karena pencernaan terganggu bayi sering minum berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun).>Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu
>Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar
>Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku
>Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang
disertai sikter bibir biru dan tangan kaku
>Mata sering juling (strabismus)
>Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)

2. GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
 Usia <> 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak / sering
menggerakkan kepala dan badan atas kebelakang, memukul dan membenturkan kepala.

3. GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI)
 Gelisah, bolak-balik dari ujung ke ujung, bila tidur posisi nungging atau
tengkurap
 Berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur
 Sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur
terus.
 Pada Usia lebih dari 9 bulan, bila tidur malam sering terbangun atau tiba-tiba
duduk dan tidur lagi

4. AGRESIF MENINGKAT
 Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut.
Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
 Pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang
menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang
menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI

5. GANGGUAN KONSENTRASI :
 Cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas bermain
 bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan
 Tidak menyukai tempat yang sempit seperti box bayi atau ruangan kamar yang
kecil. Sehingga sering minta keluar ruangan atau halaman luar rumah.

6. EMOSI MENINGKAT
 Sering menangis dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.

7. GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI :
 Pada Pola Perkembangan Normal adalah bolak-balik, duduk, merangkak, berdiri dan
berjalan sesuai usia.
 Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5
bulan, usia 6 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung
berdiri dan berjalan.

8. KETERLAMBATAN BICARA:
 Tidak mengeluarkan kata umur <> 2 kali perhari), sulit buang air besar. Bila terjadi sebaiknya harus lebih dicermati apakah gangguan ini berkaitan karena ketidakcocokan susu formula.
Alergi susu sapi biasanya semakin bertambahan usia akan semakin membaik, bukan sebaliknya. Alergi susu sapi biasanya terjadi sejak lahir. Bila gejala alergi baru timbul di atas usia 6 bulan, penyebabnya sangat mungkin bukan susu sapi. Kita harus mencermati alergi terhadap makanan lainnya yang biasanya mulai dikenalkan pada usia tersebut. Penderita alergi makanan, selain alergi terhadap susu sapi juga mengalami alergi terhadap makanan tertentu. Anak yang mengalami alergi susu sapi, ternyata didapatkan sekitar 30 - 40% mengalami alergi susu soya (kedelai). Tetapi susu soya merupakan pilihan pertama untuk anak alergi susu sapi pada usia di atas 6 bulan.
Bila anak mengalami alergi susu sapi yang ringan seperti gangguan kulit dan saluran cerna ringan akan bisa menerima susu sapi tersebut sekitar usia 1 tahun. Bila mengakibatkan gangguan berat seperti batuk, asma dan muntah biasanya akan bisa menerima susu sapi di atas usia 2 hingga 5 tahun.
Bila mencurigai ketidak cocokan susu formula, jangan terlalu cepat memvonis susu sapi adalah penyebabnya. Ketidakcocokan susu formula belum tentu hanya karena kandungan susu sapinya. Gangguan bisa timbul karena kandungan yang terdapat dalam susu formula seperti laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan sebagainya. Proses pengolahan bahan dasar susu sapi ternyata juga bisa berpengaruh. Beberapa cara proses pengolahan susu sapi tertentu dapat menghilangkan protein tertentu yang dapat menyebabkan gangguan alergi. Perbedaan ini dapat diamati dengan perbedaan bau susu formula tersebut.


Susu sapi formula satu dengan yang lainnya kadang bau ketajaman susu sapinya berbeda. Penggantian ketidakcocokan susu formula tidak harus selalu dengan susu soya atau susu hipoalergenik. Jadi, bila mencurigai ketidak cocokan susu jangan terlalu cepat mengganti dengan susu soya atau susu hipoalergi lainnya. Bila gangguannya ringan dengan penggantian susu sapi formula yang sejenis gangguan tersebut dapat berkurang. Misalnya, penggantian susu yang tidak mengandung DHA gangguan kulit bisa menghilang. Buang air besar yang sulit dengan pengantian susu sapi tertentu yang tidak mengandung kelapa sawit gangguannya membaik. Demikian pula gangguan penderita yang sering batuk, dengan mengganti susu sapi formula tertentu dapat mengurangi gangguan itu.
Pemberian susu formula khusus seperti susu soya, susu peptijunior atau susu hipoalergenik sering dianggap tidak bergizi dibanding susu formula lainnya. Sebenarnya secara umum pendapat ini tidak benar. Setiap susu formula kandungan vitamin, mineral dan kalorinya adalah sama, sudah sesuai standar FDA. Harus sesuai dengan kebutuhan anak menurut usianya. Memang susu tersebut tidak mengandung AA, DHA, dan kandungan kecerdasan lainnya. Padahal penambahan kandungan zat tersebut masih belum terbukti secara klinis. Sedangkan bila susu formula lainnya tetap dipaksakan maka banyak gangguan fungsi organ tubuh dan ganggua perilaku yang dapat terjadi dalam jangka panjang. Hal ini justru akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.
Selain ketidakcocokan susu, pertimbangan berikutnya dalam pemilihan susu adalah masalah harga. Sesuaikan pemilihan jenis susu dengan kondisi ekonomi keluarga. Harga susu tidak secara langsung berkaitan dengan kualitas kandungan gizinya. Meskipun susu tersebut murah belum tentu kalori, vitamin dan mineralnya kurang baik. Selama jumlah, jenisnya sesuai untuk usia anak dan tidak ada gangguan maka itu adalah susu yang terbaik untuk tumbuh kembang anak tersebut.
Semua susu formula susu yang beredar untuk bayi dan anak jumlah kandungan kalori, vitamin dan mineralnya tidak berbeda jauh. Perbedaan harga tersebut mungkin dipengaruhi oleh penambahan kandungan AA, DHA dan sebagainya di dalam susu formula. Pertimbangan lainnya yang penting adalah mudah didapat, baik dalam hal tempat pembelian dan penyediaan produk. Berganti-ganti jenis susu untuk seorang anak tidak harus dikawatirkan selama tidak ada gangguan penerimaan susu tersebut. Bila tidak terdapat resiko dan gejala alergi langkah berikutnya coba susu formula yang sesuai usia anak apapun merek dan jenisnya. Amati tanda dan gejala yang ditimbulkan, bila tidak ada keluhan teruskan pemberian susu tersebut dengan jumlah sesuai yang dibutuhkan anak.
Pemilihan Susu Formula (PASI) Untuk Tumbuh Kembang Anak
Asi adalah susu yang terbaik bagi anak. Susu formula terbaik adalah susu yang cocok dan tidak menimbulkan gangguan. Bukan karena susu yang disukai, termahal, terkenal atau yang mengandung berbagai macam kandungan kecerdasan. Orang tua sering dihadapkan pada masalah pemilihan jenis susu formula yang tepat dan baik untuk bayi. Masalah ini diperumit dengan semakin banyaknya susu formula yang beredar di pasaran. Informasi tentang pemahaman pemilihan jenis susu semakin banyak didapatkan, baik dari dokter, sales promotion di supermarket, iklan di media cetak dan elektronik, brosur atau dari pengalaman ibu lainnya. Informasi yang beragam inilah yang membingungkan orang tua, karena sering sangat berbeda dan berlawanan. Hal itu menunjukkan bahwa kesulitan pemilihan jenis susu formula banyak dialami oleh para orang tua. Pemilihan susu formula yang tidak tepat akan mengakibatkan gangguan beberapa fungsi dan organ tubuh seperti diare, sering batuk, sesak dan sebagainya. Gangguan sistem tubuh tersebut ternyata dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan serta mempengaruhi dan memperberat gangguan perilaku anak.
Cara Pemilihan Susu Formula.

1. Susu harus tidak menimbulkan gangguan saluran cerna seperti diare, muntah atau kesulitan buang air besar. Susu juga harus tidak menimbulkan gangguan lainnya seperti batuk, sesak, gangguan kulit dan sebagainya.
Penerimaan terhadap susu pada setiap anak sangat berbeda. Anak tertentu bisa menerima susu A, tetapi anak lainnya bila minum susu A terjadi diare, muntah atau malah sulit buang air besar. Semua susu formula yang beredar di Indonesia dan di dunia harus sesuai dengan Standard RDA (Recomendation Dietery Allowence). Standar RDA untuk susu formula bayi adalah jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Dengan kata lain penggunaan apapun merek susu sapi formula yang sesuai usia anak selama tidak menimbulkan gangguan fungsi tubuh adalah susu yang terbaik untuk anak tersebut.

2. Susu harus sesuai dan bisa diterima sistem tubuh anak. Susu tidak harus susu yang disukai bayi atau susu yang harganya mahal. Bukan juga susu yang banyak dipakai oleh kebanyakan bayi atau susu yang paling laris. Karena, susu formula dengan penjualan terbesar yang beredar di setiap negara selalu berbeda. Susu yang paling enak dan disukai bukan merupakan pertimbangan utama pemilihan susu.

Meskipun susu tersebut disukai anak, tetapi bila menimbulkan banyak gangguan fungsi dan sistem tubuh maka akan menimbulkan banyak masalah kesehatan bagi anak. Tetapi sebaliknya bila gangguan saluran cerna anak baik dan tidak terganggu maka nafsu makan atau minum susu pada anak tidak akan terganggu.

3. Merek yang terkenal dan Harga susu yang mahal juga bukan merupakan jaminan bahwa susu tersebut yang terbaik. Keterkenalan merek susu formula tertentu di suatu negara atau daerah sebenarnya lebih karena pertimbangan keberhasilan strategi pemasaran dan penyediaan barang. Hal ini dapat dillihat bahwa susu dengan penjualan tertinggi di negara satu dengan negara lainnya di dunia sangat berbeda dan bervaiasi.

4. Penambahan AA, DHA, Spingomielin pada susu formula sebenarnya tidak merupakan pertimbangan utama pemilihan susu yang terbaik. Penambahan zat yang diharap berpengaruh terhadap kecerdasan anak memang masih sangat kontroversial. Banyak penelitian masih bertolakbelakang untuk menyikapi pendapat tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan pemberian AA dan DHA pada penderita prematur tampak lebih bermanfaat. Sedangkan pemberian pada bayi cukup bulan (bukan prematur) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna mempengaruhi kecerdasan. Sehingga WHO hanya merekomendasikan pemberian AA dan DHA hanya pada bayi prematur saja.
Penambahan prebiotik atau sinbiotik untuk memperbaiki saluran cerna bukanlah yang utama. Selama bahan dasar susu formula tersebut bisa diterima saluran cerna, maka penambahan kandungan tersebut tidak terlalu bermanfaat. Sebaliknya meskipun terdapat zat tersebut, tetapi bila beberapa kandungan dalam susu sapi tidak bisa diterima saluran cerna juga tidak akan memperbaiki keadaan.

Pembedaan Pemberian Susu Formula Berdasarkan Usia

Pada dasarnya, semua susu adalah baik selama bisa mensubstitusi kebutuhan gizi anak, yaitu:
Mempermudah penyerapan zat gizi guna memenuhi kebutuhan tubuh.
Tidak mencederai atau bahkan merusak organ tubuh anak, seperti ginjal dan organ pencernaan, akibat terlalu diforsir.
Memenuhi selera anak yang sudah mengenal rasa, sehingga susu lebih mudah dikonsumsi.
Dengan begitu, jika tidak ada masalah dengan pencernaannya, anak bisa mengonsumsi susu untuk orang dewasa. Hanya saja takarannya 3 gelas per hari dan bukan 2 gelas per hari. Karena anak masih membutuhkan ekstra kalsium untuk pertumbuhan tulang dan giginya. Singkatnya dengan minum susu full cream atau susu untuk segala usia, kebutuhan gizinya pun sudah tercukupi.
Anak usia batita sebetulnya juga boleh-boleh saja mengonsumsi susu untuk anak yang berusia lebih selama takarannya mencukupi. Juga, tidak masalah bila ada anak usia 4 tahun mengonsumsi susu untuk anak usia di bawahnya.
Perbedaan kandungan susu formula biasanya tak terlalu signifikan meski mungkin kurang memenuhi standar kebutuhannya. Hanya saja hal ini sering dirasa lebih merepotkan karena orang tua harus mengalikan sekian kali dari takaran biasanya sesuai dengan usia dan berat badan anak. Itu pun hasil takarannya belum tentu tepat. Akibatnya, bisa muncul sembelit dan kerja organ pencernaannya makin berat karena kandungan gizinya tidak sesuai dengan kebutuhan.
Jadi, memang lebih bijaksana bila orang tua membeli susu sesuai usia anak, baik untuk anak 1-3 tahun, 3-5 tahun, dan 6 tahun ke atas. Selain alasan praktis tadi, kandungan gizinya pun pasti sudah disesuaikan dengan kebutuhan anak sesuai usianya. Susu untuk anak usia 6 tahun ke atas, tentu saja memiliki komposisi zat gizi seperti vitamin, lemak, protein, kalsium, dan karbohidrat jauh lebih tinggi daripada susu untuk anak 3-5 tahun.
Selain itu, susu yang dibedakan berdasarkan kelompok usia telah mempertimbangkan rasa, bentuk, dan kemasan. Meski bukan termasuk hal prinsip, pertimbangan tersebut ternyata mampu memengaruhi selera anak usia ini.


Tabel. Pembedaan kebutuhan Susu formula ( PASI ) menurut Usia
Usia Kebutuhan
Sebelum 1 tahun Boleh lebih dari 3 gelas per hari
Di atas 1 tahun Cukup 3 gelas per hari karena anak butuh cairan dan unsur-unsur protein hewani lainnya
Di atas 5 tahun 2 gelas per hari
Di atas 10 tahun 1 gelas per hari, tapi kalaupun anak ingin minum 2-3 gelas tak masalah karena pada dasarnya susu baik untuk tubuh
Narasumber: Prof. DR. Ir. Ali Khomsan, Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor

Penggolongan Susu Formula Untuk Anak Usia 1-12 th
Bagi anak-anak yang sudah mengonsumsi makanan padat, dimana susu berfungsi sebagai suplemen atau pelengkap, maka ada beberapa hal yang patut diperhatikan:

1. Sesuaikan kandungan gizinya dengan usia anak
Kandungan gizi susu formula anak harus berbeda dari susu formula bayi terutama jumlah kalori dan proteinnya. Semakin tinggi usia anak maka kalori yang dibutuhkannya pun semakin banyak. Selain itu, fungsi pencernaan makan anak untuk mengolah makanan sudah semakin baik. Namun jumlah gizi yang dibutuhkan tetap bisa dihitung berdasar usia anak. Itulah sebabnya dalam kemasan susu formula pasti dicantumkan pula untuk anak usia berapa susu tersebut ditujukan.

2. Reaksi yang mungkin timbul
Selain faktor alergi, ada pula hal-hal lain yang juga harus dicermati. Di antaranya apakah susu tersebut berdampak pada perkembangan anak seperti yang diharapkan atau tidak. Ketidakcocokan pun mungkin saja terjadi akibat adanya zat-zat tambahan seperti rasa stroberi, cokelat, buah dan lainnya.

3. Kandungan tambahan pada susu formula
Kandungan susu pada prinsipnya sama. Klasifikasi berdasar usia hanyalah pelengkap.

4. Sesuaikan dengan selera anak
Beragam rasa susu yang ditawarkan hendaknya tidak membuat orang tua malah bingung. Agar anak suka, sesuaikan rasanya dengan selera anak. Perhatikan juga apakah anak punya bakat alergi tertentu. Adakalanya susu rasa cokelat menyebabkan anak alergi atau memicu keluhan bagi mereka yang punya bakat asma. Begitu juga anak-anak hiperaktif dengan gangguan pemusatan konsentrasi, bisa-bisa bertambah hiperaktif.
Ganti-ganti susu pada prinsipnya boleh-boleh saja, selama ada alasan yang mendukung. Semisal karena memang tidak cocok atau anak bosan dengan rasa tertentu dan ingin mencoba rasa lain. Yang tidak bijaksana adalah menganggap susu yang lebih mahal pasti lebih baik.

Tidak ada komentar:

ARTIKEL TERKAIT


Kirim Komentar Anda Disini